Rudy Susmanto Bersama Forkopimda Dengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo

Rudy Susmanto Bersama Forkopimda Dengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo. (Dok. Istimewa)

Bogor, WaraWiri.net - Bupati Bogor, Rudy Susmanto bersama Wakil Bupati Bogor, Ketua DPRD Kabupaten Bogor, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan dan anggota DPRD, Sekretaris Daerah beserta jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, serta tamu undangan mengikuti dan menyaksikan Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam rangka Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI, di Ruangan Soekarno Hatta, Gedung DPRD Kabupaten Bogor, Jumat (14/8).

Pada kesempatan yang sama dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama tentang Percepatan Pelaksanaan Penguatan Ekonomi Daerah Melalui Layanan Pertanahan dan Tata Ruang dan Perjanjian Kerja Sama tentang Pertukaran dan Pemanfaatan Data dan/atau Informasi dalam Pertanahan dan Perpajakan Daerah Kabupaten Bogor antara Bupati Bogor dengan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor.

Sementara itu, kegiatan mendengarkan pidato presiden menjadi bagian dari rangkaian agenda kenegaraan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pidato Presiden Prabowo disimak bersama sebagai momentum untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam menjalankan arah pembangunan nasional di daerah.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan empat pedoman utama yang menjadi pijakan pemerintahannya dalam menjalankan amanah kepemimpinan sebagai Presiden Republik Indonesia.

Pedoman pertama adalah menjaga dan melaksanakan perintah-perintah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menurut Prabowo, hal tersebut menjadi landasan utama pemerintah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepada bangsa dan negara.

“Pertama, kami bekerja untuk menjaga dan melaksanakan perintah-perintah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” kata Prabowo.

Pedoman kedua yakni menjaga, menjalankan, dan melindungi kepentingan inti nasional yang vital. Hal tersebut mencakup upaya menjaga serta mengelola kekayaan bangsa agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

“Hal ini termasuk menjaga dan mengelola kekayaan bangsa Indonesia, agar dapat sepenuhnya dimanfaatkan untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Selanjutnya, pedoman ketiga adalah bekerja secara cepat dalam mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi rakyat. Pemerintah dituntut hadir memberikan solusi dan memastikan persoalan masyarakat dapat ditangani dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

“Kami bekerja untuk mengatasi kesulitan rakyat dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” tegas Prabowo.

Sementara pedoman keempat menekankan pentingnya orientasi jangka panjang dalam setiap kebijakan pemerintah. Pembangunan tidak hanya diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat saat ini, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan generasi mendatang.

“Dalam bekerja, kami selalu berorientasi kepada kepentingan rakyat, kepentingan anak-anak mereka dan cucu-cucu mereka,” kata Presiden Prabowo.

Kegiatan menyaksikan Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia tersebut turut menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara eksekutif dan legislatif, serta seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat Kabupaten Bogor dalam menyambut peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. (Isna)
Share:

Bupati Bogor Tinjau Dapur SPPG Klapanunggal, Rudy Susmanto Pastikan Standar Operasional Berjalan Baik

Bupati Bogor Tinjau Dapur SPPG Klapanunggal, Rudy Susmanto Pastikan Standar Operasional Berjalan Baik. (Dok. Istimewa)

Bogor, WaraWiri.net - Bupati Bogor Rudy Susmanto meninjau langsung dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Klapanunggal Polres Bogor VI, Kabupaten Bogor, untuk memastikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP), pada Kamis (13/8/26).

Rudy Susmanto mengatakan, peninjauan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Bogor memastikan program yang digagas Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dapat diimplementasikan dengan baik, aman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Semangatnya sama dengan semangat Bapak Presiden, bahwa ekonomi harus terus bergerak, anak-anak harus mendapatkan asupan gizi yang cukup. Yang paling utama, kita memastikan operasional dapur SPPG berjalan sesuai SOP dan standar yang telah ditetapkan,” ujar Rudy.

Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga memiliki dampak terhadap pergerakan ekonomi masyarakat. Karena itu, seluruh proses pelaksanaannya harus dilakukan secara optimal dan sesuai ketentuan.

“Kita ingin program yang baik, yang sudah digagas oleh Bapak Presiden dan menjadi perhatian masyarakat Indonesia, dapat diimplementasikan dengan cara yang baik pula,” katanya.

Dalam peninjauan tersebut, Rudy melihat secara langsung standardisasi perlengkapan serta penerapan SOP di dapur SPPG. Ia menyebut, berdasarkan hasil pemantauan, sejumlah standar yang ditetapkan telah dijalankan dengan baik.

“Yang kita lihat hari ini, standardisasi perlengkapan sudah dipenuhi dan SOP-nya juga dijalankan dengan baik. Kita tentu tidak ingin kejadian-kejadian yang kurang baik kembali terulang, khususnya terkait pelaksanaan program makan bergizi di Kecamatan Klapanunggal,” jelasnya.

Rudy menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bogor akan terus melakukan pengawasan dan memastikan seluruh penyelenggara SPPG menjalankan proses sesuai standar yang telah ditetapkan.

“Program ini harus berjalan dengan baik, aman, dan memberikan manfaat terbaik bagi anak-anak. Karena itu, pengawasan dan evaluasi akan terus kita lakukan,” tutupnya. (Isna)
Share:

Pustakawan Penjaga Memori Kolektif, Identitas, dan Pengetahuan Bangsa di Era Teknologi Digital

Pustakawan Penjaga Memori Kolektif, Identitas, dan Pengetahuan Bangsa di Era Teknologi Digital. (Dok. Perpusnas)

Jakarta, WaraWiri.net - Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP IPI) Joko Santoso menyatakan tema Guardians of Memory menggambarkan tanggung jawab profesi pustakawan. Menurutnya, warisan dokumenter dapat berupa manuskrip, buku, surat kabar, foto, peta, rekaman suara, film, arsip, hingga dokumen digital yang merekam perjalanan suatu bangsa.  

Joko menjelaskan, terdapat lima peran pustakawan yang semakin relevan dalam konteks Guardian of Memory, yakni sebagai penjaga memori, penghubung antara pengetahuan dan masyarakat, pemberi makna, pendidik, serta kolaborator. Pustakawan juga berperan membantu masyarakat menemukan sumber yang dapat dipercaya serta mengembangkan kecakapan literasi informasi dan literasi digital untuk menghadapi misinformasi dan disinformasi. 

“Pustakawan masa depan bukan penjaga rak buku. Ia adalah penjaga memori, penghubung pengetahuan, pendidik literasi, pemberi konteks dan makna, dan mitra masyarakat dalam memahami dunia,” ujarnya.

Ia menekankan masa depan perpustakaan sangat bergantung pada masa depan pustakawannya. Perkembangan teknologi, pertumbuhan koleksi, dan kecanggihan sistem tetap membutuhkan pustakawan yang memiliki kompetensi, integritas, rasa ingin tahu, kemampuan beradaptasi, serta kesadaran akan tanggung jawab sosial profesinya.

Seminar tersebut juga berlangsung dalam momentum 250 tahun Kemerdekaan Amerika Serikat dan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Joko menyampaikan bahwa perjalanan sejarah kedua negara mengingatkan bahwa sebuah bangsa dibangun bukan hanya oleh apa yang dilakukan pada masa kini, tetapi juga oleh kemampuannya mengingat, memeriksa, dan memahami perjalanan masa lalu yang membentuk dirinya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Suharyanto mengemukakan tiga tantangan dalam pengelolaan pengetahuan saat ini. Pertama, kerentanan dokumen fisik dan objek digital terhadap kerusakan, bencana, keusangan format, serangan siber, serta kehilangan konteks. Kedua, disinformasi yang berkembang di tengah kelimpahan informasi. Ketiga, pergeseran konsumsi pengetahuan dari literatur panjang menuju konten pendek di media sosial. 

“Karena itu, perpustakaan perlu kita lihat bukan hanya sebagai tempat menyimpan koleksi, melainkan sebagai infrastruktur ingatan, infrastruktur pengetahuan, dan infrastruktur kepercayaan publik,” katanya. 

Perpusnas, lanjutnya, menjalankan pengelolaan pengetahuan melalui pengembangan koleksi, pengelolaan metadata, layanan perpustakaan, preservasi bahan perpustakaan, promosi sumber informasi terpercaya, serta penguatan literasi informasi masyarakat. Saat ini Perpusnas memiliki lebih dari 3,6 juta judul dengan sekitar 9,9 juta eksemplar koleksi.

Dalam pelestarian naskah Nusantara, sejumlah capaian strategis pada 2025 antara lain pengakuan UNESCO Memory of the World terhadap Syair Hamzah Fansuri dan Sanghyang Siksa Kandang Karesian, repatriasi 42 naskah kuno Nusantara dari Selandia Baru, penetapan enam naskah baru sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON), serta pengarusutamaan naskah Nusantara melalui komik, bacaan anak, dan film.

Suharyanto juga menyampaikan bahwa digitalisasi bahan perpustakaan perlu terus dikembangkan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial. Dalam perspektif lintas Pasifik, kerja sama preservasi mencakup interoperabilitas metadata dan objek digital, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan ketahanan terhadap bencana, serta kemitraan dengan perpustakaan, arsip, museum, universitas, komunitas, dan pemilik koleksi.

Direktur Eksekutif Fulbright Indonesia Sandra Hamid menyoroti pentingnya menjaga pengetahuan agar dapat diteruskan kepada generasi mendatang. Ia juga mengaitkan upaya tersebut dengan kemampuan masyarakat menggunakan informasi digital secara lebih baik di tengah beredarnya fakta, miskonsepsi, misinformasi, dan disinformasi.

Sandra menempatkan pertukaran pengalaman antara praktisi Indonesia dan Amerika Serikat sebagai bagian dari kolaborasi yang setara. “Ini adalah percakapan di antara pihak-pihak yang setara. Ini bukan tentang mengajar atau diajar, melainkan tentang berbagi informasi dan pengalaman,” tuturnya.

Fulbright Specialist Thomas Rieger memaparkan digitalisasi sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan memori publik. Menurutnya, digitalisasi tidak dapat dipisahkan dari upaya mempertemukan warisan sejarah dengan literasi dan akses terhadap pengetahuan.

“Digitalisasi menghubungkan sejarah dunia kita dengan literasi. Keduanya saling berkaitan dan saling memperkaya; yang satu tidak akan bermakna tanpa yang lain. Dan institusi yang menyatukan keduanya di seluruh dunia adalah perpustakaan,” ucapnya.

Rieger juga memperkenalkan perkembangan teknologi pencitraan untuk material warisan budaya, termasuk Multispectral Imaging System for Historical Artifacts (MISHA). Teknologi pencitraan multispektral tersebut dapat membantu mengungkap informasi pada material yang tidak lagi dapat dilihat secara normal oleh mata manusia.

Sementara itu, Pustakawan Perpusnas Aris Riyadi memaparkan peran pustakawan sebagai penjaga warisan dokumenter melalui konservasi, digitalisasi, dan riset kolaboratif. Paparannya antara lain menampilkan penanganan Babad Diponegoro, preservasi manuskrip Sri Tanjung, serta praktik digitalisasi dan pelestarian warisan dokumenter.

“Kami tuh punya kewajiban. Harus melestarikan itu,” sebutnya ketika menjelaskan tanggung jawab pelestarian terhadap beragam koleksi Perpusnas.

Ia menjelaskan, pelestarian di Perpusnas mencakup konservasi, digitalisasi, dan preservasi digital, sedangkan hasil digitalisasi disediakan agar dapat diakses masyarakat. (Dimas)
Share:

Menhut: Karhutla Perlu Diantisipasi, Dampaknya terhadap Masyarakat Harus Diminimalkan

Menhut sebut Karhutla Perlu Diantisipasi, Dampaknya terhadap Masyarakat Harus Diminimalkan. (Dok. Kemenhut)

Jakarta, WaraWiri.net - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menghadiri Rapat Koordinasi Tingkat Menteri terkait antisipasi dan penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap layanan masyarakat. Rapat yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno secara daring (13/8/2026) tersebut membahas langkah terpadu untuk mengantisipasi dampak karhutla terhadap kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak.

Menhut Raja Juli menyampaikan bahwa kondisi karhutla tahun 2026 perlu mendapat perhatian serius seiring fenomena El Nino yang terjadi lebih cepat. Berdasarkan data yang dipaparkan, luas kebakaran hingga Juli 2026 mencapai sekitar 202.004 hektare, dengan sekitar 57 persen berada di kawasan hutan dan 43 persen di area penggunaan lain (APL) . Angka tersebut telah melampaui kondisi pada periode yang sama pada 2019 dan 2023.

“Climate change is real,” ujar Raja Juli, menegaskan bahwa perubahan iklim turut memengaruhi pola dan intensitas fenomena El Nino. Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan karena kondisi El Nino yang kuat berpotensi memperbesar risiko karhutla.

Menhut juga menyampaikan, terdapat sejumlah provinsi yang menjadi prioritas dalam antisipasi karhutla, antara lain Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Namun, pemerintah juga mencermati adanya perubahan lokasi kebakaran, termasuk di wilayah yang sebelumnya bukan daerah prioritas tetapi menunjukkan angka kebakaran yang tinggi.

Menurut Menhut Raja Juli, perubahan lokasi tersebut membutuhkan kesiapsiagaan lintas sektor karena dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi dapat langsung dirasakan masyarakat. “Apabila dengan El Nino yang sangat kuat ini ada dampak langsung pada masyarakat, untuk sektor pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu perhatian utama adalah dampak asap dari kebakaran, khususnya pada wilayah dengan karakteristik lahan yang menyebabkan pembakaran tidak sempurna dan menghasilkan emisi serta partikulat yang lebih banyak. Kondisi tersebut berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan kehidupan sosial.

Untuk memperkuat pengendalian karhutla, pemerintah terus melakukan pemantauan hotspot, pengecekan lapangan, patroli, deteksi dini, serta intervensi langsung terhadap titik-titik yang berpotensi berkembang menjadi karhutla.

Selain penanganan di lapangan, pemerintah memperkuat koordinasi komunikasi publik melalui Media Center di BNPB. Kementerian Kehutanan akan memberikan data dan informasi yang dibutuhkan untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi perkembangan karhutla yang informatif, edukatif, empatik, dan simpatik.

Media Center tersebut juga akan menjadi wadah koordinasi informasi lintas kementerian/lembaga, termasuk untuk menyampaikan perkembangan secara berkala melalui rilis maupun konferensi pers dengan melibatkan sektor-sektor terkait seperti kesehatan dan pendidikan.

Masyarakat dapat ikut memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan melalui SIPONGI+ (Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan) di tautan sipongi.gakkum.kehutanan.go.id milik Kementerian Kehutanan. Platform ini menyediakan informasi sebaran hotspot, termasuk berdasarkan tanggal, wilayah, satelit, dan tingkat kepercayaan, serta informasi terkait pemantauan dan pengendalian karhutla. Dengan mengakses data tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi resmi dan terkini sebagai bagian dari upaya bersama meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

Menhut Raja Juli menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama seluruh kementerian/lembaga, terutama untuk memastikan ketika terjadi dampak langsung terhadap masyarakat, layanan dasar tetap dapat berjalan dan masyarakat memperoleh informasi serta perlindungan yang diperlukan.

Melalui koordinasi lintas sektor tersebut, pemerintah berkomitmen memperkuat pencegahan dan penanganan karhutla sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam meminimalkan dampaknya terhadap kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak. (Iqbal)
Share:

Menperin: Arahan Presiden Tegaskan Industrialisasi Jadi Fondasi Kemandirian Ekonomi

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (Dok. Kemenperin)

Jakarta, WaraWiri.net - Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk mengakselerasi industrialisasi nasional sebagai salah satu instrumen utama dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, menciptakan lapangan kerja, memperkuat kemandirian ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026, Kamis (14/8).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pesan Presiden mengenai pentingnya pertumbuhan ekonomi dan investasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat semakin mempertegas posisi sektor industri manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

“Bapak Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir, tetapi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Setiap investasi harus mampu menciptakan pekerjaan dan setiap kebijakan harus memperbaiki kehidupan masyarakat. Bagi Kementerian Perindustrian, arahan ini semakin memperkuat tekad kami untuk menjalankan industrialisasi yang inklusif, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri,” kata Menperin di Jakarta, Jumat (14/8).

Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa di tengah konflik geopolitik, perang dagang, gangguan rantai pasok, serta tekanan ekonomi global, Indonesia harus semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri. Presiden juga menyampaikan bahwa realisasi investasi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp1.931 triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja. Sementara pada semester I-2026, realisasi investasi telah mencapai Rp1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.

Menurut Menperin, pesan mengenai kemandirian tersebut sangat relevan dengan agenda pembangunan industri nasional. Sebab, industri yang kuat akan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, memperdalam struktur industri, meningkatkan penguasaan teknologi, memperkuat rantai pasok domestik, serta menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kita tidak boleh terlalu bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan strategis nasional. Karena itu, kita harus membangun struktur industri yang semakin dalam dan terintegrasi dari hulu sampai hilir. Indonesia harus mampu mengolah sumber daya yang kita miliki menjadi produk industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” ujar Agus.

Menperin menilai, arah kebijakan tersebut telah menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan II-2026 industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh sebesar 5,32 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama sebesar 5,29 persen.

Selain tumbuh lebih tinggi dari ekonomi nasional, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 18,50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sehingga tetap menjadi kontributor terbesar dalam struktur perekonomian Indonesia. Industri pengolahan juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi mencapai 0,90 persen.

“Capaian ini menunjukkan bahwa kebijakan Presiden yang memberikan keberpihakan kuat terhadap sektor industri telah menghasilkan dampak yang konkret. Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Ini menjadi modal yang sangat penting untuk terus memperbesar peranan industri sebagai motor penggerak ekonomi,” tutur Menperin.

SBIN Perkuat Arah Industrialisasi

Agus menjelaskan, arahan Presiden tersebut diterjemahkan Kementerian Perindustrian melalui implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN). Strategi ini diarahkan untuk memperkuat struktur industri nasional, mempercepat hilirisasi dan peningkatan nilai tambah, meningkatkan produktivitas dan daya saing, memperluas pasar, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Menurut Menperin, industrialisasi yang dijalankan pemerintah tidak hanya berorientasi pada peningkatan angka pertumbuhan, tetapi juga memastikan semakin banyak nilai tambah ekonomi yang tercipta dan dinikmati di dalam negeri.

“Industrialisasi harus menghasilkan multiplier effect yang luas. Ketika sebuah industri tumbuh, yang berkembang bukan hanya pabriknya. Ada tenaga kerja yang terserap, pemasok bahan baku dan komponen yang tumbuh, IKM yang masuk ke rantai pasok, aktivitas logistik yang meningkat, teknologi yang berkembang, hingga ekspor yang semakin kuat,” jelasnya.

Kinerja positif industri nasional saat ini juga tercermin dari sejumlah indikator aktivitas manufaktur. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada pada level 52,31, yang menunjukkan kondisi ekspansi. Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 berada di level 50,2, sedangkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 mencapai 53,10. Ketiga indikator tersebut menunjukkan aktivitas industri nasional tetap berada pada zona ekspansif.

“Ini memperlihatkan bahwa pelaku industri masih memiliki optimisme terhadap prospek usaha. Pemerintah harus menjaga momentum tersebut melalui kebijakan yang memberikan kepastian usaha, memperkuat pasar domestik, meningkatkan investasi, serta menciptakan iklim industri yang semakin kompetitif,” ungkap Agus.

Pertumbuhan IPNM pada triwulan II-2026 juga ditopang oleh sejumlah subsektor strategis. Industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 6,51 persen, sejalan dengan meningkatnya permintaan domestik dan ekspor.

Sementara itu, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatat pertumbuhan sebesar 8,04 persen, didukung peningkatan permintaan global terhadap komponen elektronik, baterai, serta berbagai peralatan listrik. Adapun industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh sebesar 4,99 persen, antara lain karena meningkatnya permintaan domestik terhadap bahan kimia dan produk turunannya.

Hilirisasi Harus Ciptakan Lapangan Kerja

Menperin juga menyambut arahan Presiden untuk terus mempercepat hilirisasi sumber daya alam. Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa keuntungan BUMN digunakan untuk mempercepat hilirisasi, termasuk melalui peletakan batu pertama 13 proyek hilirisasi pada 6 Februari 2026 dan 13 proyek lainnya pada 29 April 2026.

Proyek tersebut antara lain mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, serta pengolahan alumina menjadi aluminium. Presiden menekankan proyek-proyek tersebut menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja baru.

Menurut Agus, hilirisasi harus terus diperluas sehingga tidak berhenti pada pengolahan komoditas menjadi produk antara. Hilirisasi perlu diarahkan hingga menghasilkan produk akhir bernilai tambah tinggi dan memperkuat ekosistem industri nasional.

“Hilirisasi harus kita bawa semakin dalam. Semakin panjang rantai nilai yang dibangun di Indonesia, semakin besar nilai tambah yang tinggal di dalam negeri dan semakin banyak pula kesempatan kerja yang dapat kita ciptakan. Inilah esensi industrialisasi yang sedang kita bangun,” tegas Menperin.

Hal tersebut sekaligus sejalan dengan penegasan Presiden bahwa setiap rupiah investasi harus mampu menciptakan pekerjaan. Kemenperin mencatat, berdasarkan data Mei 2026, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 13,53 persen terhadap penyerapan tenaga kerja nasional, dari total penduduk bekerja sebanyak 148,19 juta orang.

Agus menekankan, penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan sektor industri. Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan investasi yang tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi, memperkuat rantai pasok domestik, menggunakan produk dalam negeri, mengembangkan sumber daya manusia, serta membuka kesempatan kerja.

“Kami ingin investasi yang masuk memberikan dampak ekonomi seluas-luasnya. Investasi harus menjadi bagian dari pembangunan ekosistem industri nasional, bukan berdiri sebagai enclave yang tidak terkoneksi dengan industri dalam negeri,” katanya.

Perkuat Pasar Domestik

Menperin menambahkan, kemandirian ekonomi sebagaimana ditekankan Presiden juga membutuhkan penguatan pasar domestik. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki pasar yang sangat potensial dan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh industri nasional.

Data menunjukkan konsumsi masyarakat masih tumbuh, salah satunya tercermin dari nilai impor barang konsumsi yang meningkat sebesar 27,15 persen secara tahunan. Menurut Agus, kondisi tersebut di satu sisi menunjukkan permintaan domestik tetap kuat, tetapi di sisi lain menjadi sinyal bahwa kemampuan industri nasional dalam memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri masih perlu diperkuat.

“Kita memiliki pasar domestik yang sangat besar. Jangan sampai peningkatan konsumsi masyarakat justru lebih banyak dinikmati oleh produk impor. Momentum pertumbuhan permintaan harus kita manfaatkan untuk memperbesar produksi industri nasional,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah perlu semakin memperkuat kebijakan perlindungan terhadap industri dalam negeri, termasuk industri penyedia bahan baku dan komponen. Penguatan struktur industri diperlukan agar kebutuhan pasar domestik dapat semakin banyak dipenuhi dari produksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Menperin juga mencermati bahwa pada triwulan II-2026, komponen net ekspor masih memberikan andil negatif sebesar 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut menjadi pengingat penting untuk terus meningkatkan daya saing produk industri nasional, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat substitusi impor.

“Karena itu, agenda penguatan industri dalam negeri harus berjalan dari dua sisi sekaligus. Pertama, memperbesar kemampuan industri nasional memenuhi pasar domestik. Kedua, meningkatkan daya saing agar produk manufaktur Indonesia semakin kuat menembus pasar global,” jelas Agus.

Perluas Rantai Pasok Global

Menperin juga menyoroti pernyataan Presiden mengenai pentingnya diplomasi ekonomi yang dapat membuka pasar bagi produk Indonesia, membawa investasi dan teknologi, serta menciptakan lapangan pekerjaan.

Presiden menyampaikan bahwa saat ini sebanyak 25 perjanjian perdagangan telah diimplementasikan, termasuk lima perjanjian perdagangan baru yang mulai diimplementasikan dalam satu tahun terakhir. Selain itu, terdapat dua perjanjian dalam proses ratifikasi, 13 perjanjian dalam proses perundingan, dan dua lainnya menunggu jadwal penandatanganan.

Menurut Agus, perluasan akses pasar tersebut harus dimanfaatkan secara optimal oleh sektor manufaktur nasional. “Perjanjian perdagangan harus kita manfaatkan untuk meningkatkan ekspor produk manufaktur bernilai tambah, bukan sekadar memperbesar perdagangan komoditas mentah. Industri nasional harus semakin dalam masuk ke rantai pasok global,” ujarnya.

Kemenperin juga memandang penting pesan Presiden mengenai upaya memperoleh teknologi, manajemen, dan akses pasar internasional sehingga Indonesia dapat semakin terintegrasi dalam rantai pasok dunia.

Menurut Menperin, transformasi teknologi menjadi salah satu prasyarat untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional. Karena itu, investasi yang membawa transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, riset dan inovasi, serta keterlibatan industri domestik akan menjadi semakin strategis.

“Target kita bukan sekadar menjadi pasar. Indonesia harus menjadi basis produksi, basis inovasi, dan bagian penting dari rantai pasok dunia. Untuk mencapainya, kita membutuhkan industri yang produktif, efisien, inovatif, hijau, dan didukung SDM industri yang kompeten,” katanya.

Menperin menegaskan, Kementerian Perindustrian akan terus mengawal arahan Presiden melalui kebijakan pro-industri yang mampu memperkuat manufaktur nasional. Implementasi SBIN akan terus dipercepat dengan mengedepankan penguatan struktur industri, hilirisasi, substitusi impor, transformasi teknologi, pengembangan industri hijau, peningkatan kualitas SDM, serta perluasan pasar domestik dan ekspor.

“Pesan Bapak Presiden sangat jelas bahwa Indonesia harus semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri. Bagi kami, salah satu fondasi utama untuk mewujudkannya adalah industri nasional yang kuat dan berdaulat. Karena itu, momentum pertumbuhan manufaktur yang saat ini sudah melampaui pertumbuhan ekonomi nasional harus terus kita jaga dan tingkatkan,” tegas Agus.

“Industrialisasi bukan semata-mata tentang membangun pabrik. Industrialisasi adalah tentang menciptakan nilai tambah, membangun kemandirian, menguasai teknologi, membuka lapangan kerja, dan memastikan kekayaan Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” pungkas Menperin. (Budi)
Share:

BGN Perkuat Sinergi dengan Pemda, Kawal Pelaksanaan MBG di Daerah

BGN Perkuat Sinergi dengan Pemda, Kawal Pelaksanaan MBG di Daerah. (Dok. BGN)

Jakarta, WaraWiri.net - Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan optimal di daerah.

Kepala BGN Sudaryono atau Mas Dar menyampaikan bahwa penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG. Hal ini mengingat pemerintah daerah memiliki peran langsung dalam mendukung berbagai aspek pelaksanaan program di wilayah masing-masing.

“Sebagaimana disampaikan oleh Pak Menteri Dalam Negeri, hari ini kita melaksanakan rapat koordinasi antara BGN dengan kepala daerah di seluruh Indonesia,” ujar Mas Dar dalam Rapat Koordinasi Khusus bersama Menteri Dalam Negeri dan kepala daerah se-Indonesia, Kamis (13/8).

Menurutnya, BGN membutuhkan dukungan dan kolaborasi pemerintah daerah untuk memastikan berbagai persoalan dalam pelaksanaan MBG dapat ditangani secara bersama-sama.

Mas Dar juga mengapresiasi kepala daerah yang selama ini telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan MBG, termasuk melalui Dinas Kesehatan dalam menangani berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan.

“Kami menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kepala daerah yang selama ini memang membersamai program MBG, baik itu membersamai untuk mendukung program itu terlaksana dengan baik, termasuk juga mohon maaf setiap ada terjadinya kecelakaan, keracunan,” kata Mas Dar.

Ia menegaskan bahwa BGN siap berkolaborasi dan berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk kepala daerah, masyarakat umum, hingga orang tua siswa. Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan pelaksanaan MBG dapat berjalan dengan baik dan persoalan yang muncul di lapangan dapat ditangani secara bersama-sama.

Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat kolaborasi dengan BGN. Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah diperlukan dalam sejumlah aspek pelaksanaan MBG.

“Intinya adalah, dari BGN ini meminta kolaborasi kerja sama dengan semua pemerintah daerah. Otomatis dari Kemendagri, kami mendukung untuk memfasilitasi komunikasi itu. Pemerintah daerah diminta untuk ikut terlibat dalam program makanan bergizi gratis,” ujar Tito.

Tito juga berharap setiap dinas di daerah dapat mengambil perannya masing-masing untuk mendukung pelaksanaan MBG. Ia menilai keterlibatan lintas perangkat daerah penting agar dukungan pemerintah daerah terhadap program dapat berjalan secara optimal.

“Kemudian yang lainnya, ya otomatis Dinas Pendidikan masing-masing berperan untuk pendataan penerima manfaat. Kemudian ikut mengawasi dari Dinas Kesehatan, ikut mengawasi masalah higienis di SPPG yang ada, ya,” tambah Tito. (Putra)
Share:

KCIC Lakukan Simulasi Kebakaran hingga Penyelamatan Whoosh untuk Perkuat Kesiapsiagaan Tanggap Darurat

KCIC Lakukan Simulasi Kebakaran hingga Penyelamatan Whoosh untuk Perkuat Kesiapsiagaan Tanggap Darurat. (Dok. KCIC)

Bandung, WaraWiri.net - KCIC menggelar Simulasi Tanggap Darurat Terpadu di Stasiun Tegalluar Summarecon pada Kamis malam, 13 Agustus 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya KCIC untuk memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kondisi darurat pada operasional Kereta Cepat Whoosh.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, evaluasi dan simulasi tanggap darurat dilakukan secara rutin untuk memastikan sistem penanganan darurat, kesiapan personel, serta pemahaman dan penerapan SOP dapat berjalan secara efektif.

“Melalui simulasi ini kami dapat mengukur efektivitas penanganan kondisi darurat, pemahaman terhadap SOP, serta kesigapan petugas. Seluruh tahapan dilakukan secara real time sehingga dapat langsung diketahui waktu yang diperlukan dalam setiap proses penanganan dan menjadi bahan evaluasi bagi kami. Dalam layanan kereta cepat, tidak ada toleransi terhadap aspek keselamatan,” ujar Eva.

Simulasi melibatkan berbagai fungsi internal KCIC serta sejumlah pihak eksternal, di antaranya Kementerian Perhubungan, BASARNAS, Dinas Pemadam Kebakaran, rumah sakit, TNI/Polri, serta berbagai unsur kewilayahan. Keterlibatan berbagai pihak tersebut sekaligus digunakan untuk menguji efektivitas komunikasi dan koordinasi terpadu dalam menghadapi konfirmasi darurat.

Skenario dimulai dengan simulasi munculnya asap dan titik api di Kereta 5 Whoosh yang berada di stasiun. Kru melakukan penanganan awal, mengisolasi area terdampak, mengevakuasi penumpang menuju titik aman, serta melakukan penanganan terhadap penumpang yang membutuhkan bantuan medis. Penanganan kemudian dilanjutkan dengan pengamanan sistem kelistrikan dan proses pemadaman bersama tim tanggap darurat hingga kondisi dinyatakan aman.

Setelah kondisi kebakaran ditangani, rangkaian Whoosh yang disimulasikan tidak dapat melanjutkan perjalanan sehingga dilakukan proses rescue menggunakan lokomotif penolong menuju Depo Tegalluar. Tahapan tersebut sekaligus menguji kesiapan teknis mulai dari proses penyambungan rangkaian, pengujian sistem pengereman, hingga penarikan EMU menuju depo sesuai dengan prosedur keselamatan yang telah ditetapkan.

Eva mengatakan, hasil simulasi akan menjadi bahan evaluasi untuk mengukur efektivitas SOP, waktu penanganan, kesiapan personel dan peralatan, serta koordinasi internal maupun eksternal.

“KCIC selalu menekankan bahwa keselamatan selalu menjadi prioritas dan harus diterapkan dalam setiap proses operasional maupun pelayanan Whoosh,” tutup Eva. (Alif)
Share:

KPK Petakan 8 Titik Rawan Dana Hibah dan Anomali PBJ di Kalimantan

KPK Petakan 8 Titik Rawan Dana Hibah dan Anomali PBJ di Kalimantan. (Dok. KPK)

Kalimantan Tengah, WaraWiri.net - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memetakan sejumlah titik rawan korupsi dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di Kalimantan, yakni dalam penyaluran dana hibah. Sementara, pada sektor Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) terdapat sejumlah anomali yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah (pemda).

KPK menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Strategi Pencegahan Korupsi Berbasis Pemetaan Risiko pada Area Strategis Pemerintahan Daerah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (13/8). Adapun, kegiatan ini diikuti kepala daerah se-Kalimantan, sebagai bagian penguatan pencegahan korupsi berbasis risiko di daerah.

Deputi Koordinasi dan Supervisi (Korsup) KPK, Ely Kusumastuti, menegaskan temuan dan indikasi tersebut harus menjadi peringatan dini bagi pemda. Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), menurutnya, berposisi strategis guna mendeteksi sekaligus mengoreksi potensi penyimpangan sebelum berkembang menjadi persoalan hukum.

“APIP harus berani mengawasi, terutama untuk mendeteksi sejak awal potensi pengkondisian dalam setiap tahapan, mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga pengadaan,” tegas Ely.

Delapan Titik Rawan Dana Hibah

Dalam penyaluran dana hibah, khususnya di Kalimantan, KPK mengidentifikasi delapan titik rawan yang perlu diperhatikan pemda, yaitu hibah diberikan tanpa didahului proposal atau usulan; proposal diajukan saat proses penganggaran berjalan; data penerima tidak jelas; nama penerima tumpang tindih; penerima hibah muncul berturut-turut; mekanisme monitoring dan pertanggungjawaban tidak memadai; realisasi hibah tidak sesuai perjanjian; serta penerima tidak memenuhi kriteria ditetapkan.

Menurut Ely, kondisi tersebut dapat menyulitkan pemda dalam memastikan akuntabilitas penggunaan anggaran. Salah satu yang menjadi persoalan, yaitu proposal yang belum dievaluasi dan diverifikasi, sementara anggaran hibah sudah disiapkan.

“Seharusnya proposal diajukan terlebih dahulu, diperiksa kelayakannya, kemudian masuk proses penganggaran, dilanjutkan Nota Perjanjian Hibah Daerah (NPHD), dan setelah seluruh proses terpenuhi, barulah hibah disalurkan,” jelas Ely.

Ia mengingatkan setiap proses pengelolaan hibah harus dapat dipertanggungjawabkan karena anggaran yang dikelola merupakan uang publik. “Kami datang dalam konteks pencegahan. Karena itu, kami berharap seluruh pihak ikut mengawasi, karena yang dikelola adalah uang rakyat,” tuturnya.

Selain hibah, KPK menyoroti sejumlah titik rentan pada PBJ, baik melalui tender, e-purchasing, maupun penunjukkan langsung (PL). Adapun beberapa indikasinya, antara lain afiliasi antara penyedia dengan pejabat pembuat komitmen (PPK) maupun anggota legislatif; penyedia tidak kompeten atau tidak tersertifikasi badan usaha (SBU) sesuai syarat; hingga indikasi pengguguran peserta atau penyedia melalui syarat yang tidak semestinya.

“Ketika sejak awal muncul indikasi yang mengarah pada penyedia tertentu, harus menjadi alarm bagi APIP. Periksa dokumen penawaran dan persyaratan teknisnya, sehingga potensi pengkondisian dapat dicegah sejak awal,” tegasnya.

Pengawasan Rantai PBJ

Penguatan pengawasan tersebut sejalan dengan upaya pencegahan korupsi oleh KPK, lewat instrumen Monitoring Controlling Surveillance for Prevention (MCSP). Pada 2025, nilai MCSP di empat dari lima provinsi di Kalimantan menurun dibandingkan periode sebelumnya.

Nilai MCSP Kalimantan Tengah turun dari 83 menjadi 82, Kalimantan Timur dari 80 menjadi 75, Kalimantan Barat dari 89 menjadi 78, dan Kalimantan Selatan dari 93 menjadi 85. Sementara, hanya skor Kalimantan Utara yang meningkat dari 82 menjadi 83.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi penguatan pengawasan dan tindak lanjut pemda. Ely menegaskan, capaian MCSP bukan sekadar angka pengukuran, sehingga KPK tidak sekadar berkoordinasi, namun turun langsung ke lapangan guna memverifikasi dan memvalidasi temuan awal.

“Kami meninjau langsung ke lapangan untuk memverifikasi dan memvalidasi. Pada Juli dan Oktober 2025, kami turun ke Singkawang dan Banjarbaru untuk memastikan kondisi dan menguji rekomendasi pencegahan benar-benar ditindaklanjuti,” ujar Ely.

Sejalan, Deputi Bidang Hukum dan Penyelesaian Sanggah Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), Setya Budi Arijanta, menegaskan pentingnya pengawasan yang dibangun sepanjang proses PBJ. Menurutnya, pengawasan tidak cukup pada tahap akhir, tapi sejak perencanaan, persiapan, pelaksanaan, hingga serah terima pekerjaan.

“Pengawasan dapat melalui audit, reviu, pemantauan, dan evaluasi. Selain itu, perlu dibuka ruang pengaduan melalui whistleblowing system agar setiap indikasi penyimpangan dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti,” terang Setya.

Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Otda Kemendagri), Cheka Virgowansyah, menyampaikan forum sinergi ini bertujuan membentuk pemerintahan daerah yang bersih, efektif, dan akuntabel.

“Mendagri berharap kepala daerah memperkuat integritas pribadi dan komitmen antikorupsi melalui pengawasan internal kuat dan pengelolaan anggaran daerah bertanggung jawab,” ungkap Cheka.

Dari Deteksi Dini ke Tindak Lanjut

Rakor pencegahan korupsi di Kalimantan merupakan strategi penguatan pencegahan korupsi melalui pendekatan berbasis risiko. Kalimantan menjadi klaster kedua dari total 10 klaster yang mencakup 32 provinsi di Indonesia, setelah Jawa Timur.

Penguatan ini menjadi semakin penting di tengah masih adanya perkara korupsi yang melibatkan kepala daerah. Diketahui, sepanjang 2025–2026, KPK telah melakukan 17 kegiatan tangkap tangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Ely menegaskan, KPK tidak sekadar melihat komitmen pemda dari sisi pernyataan, namun tindak lanjut nyata terhadap rekomendasi dan hasil pemetaan risiko. “Yang kami lihat bukan hanya itikad baik pemda, tapi komitmen tersebut ditindaklanjuti secara konkret,” ungkap Ely.

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, mengapresiasi penguatan sinergi tersebut. Menurutnya, pendekatan pencegahan berbasis risiko memberikan perspektif baru bagi kepala daerah untuk mengenali potensi persoalan sebelum berkembang menjadi pelanggaran.

“Kita semakin memahami pencegahan korupsi bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, namun bagaimana membaca potensi kerawanan sejak awal. Dengan begitu, setiap proses pemerintahan dapat berjalan lebih hati-hati, transparan, dan sesuai aturan,” tuturnya.

Turut hadir kepala daerah dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), serta sejumlah perangkat daerah dari 5 provinsi, 47 kabupaten, dan 9 kota dari Kalimantan dalam kegiatan ini. KPK berharap penguatan pencegahan di Kalimantan tidak berhenti di sini, melainkan menjadi tindak lanjut atas setiap rekomendasi hasil pengawasan. (Rizal)
Share:

JNBA 2026 di Sumba Barat Daya, KPK Tanamkan Budaya Antikorupsi Sejak Dini

JNBA 2026 di Sumba Barat Daya, KPK Tanamkan Budaya Antikorupsi Sejak Dini. (Dok. KPK)

NTT, WaraWiri.net - Upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membangun budaya antikorupsi hingga ke tengah masyarakat terus diperkuat melalui Program Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi (JNBA) 2026. Setelah menyambangi sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, JNBA 2026 kini tiba di Kabupaten Sumba Barat Daya sebagai daerah terakhir dalam rangkaian program tahun ini.

KPK bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Barat Daya resmi membuka JNBA 2026 di Sumba Barat Daya, Rabu (12/8), dengan mengusung tema ‘Dari Timur untuk Indonesia Berintegritas’. Melalui kegiatan ini, KPK memperluas ruang edukasi dan partisipasi publik sekaligus mendorong masyarakat untuk tidak hanya memahami nilai-nilai antikorupsi, tetapi turut menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Sekretariat Direktorat Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat KPK, Guntur Kusmeiyano, menjelaskan bahwa JNBA tahun ini hadir di lima wilayah di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, yakni Kota Mataram, Kabupaten Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya. Perluasan jangkauan tersebut menjadi bagian dari upaya KPK membawa nilai-nilai antikorupsi lebih dekat kepada masyarakat di berbagai daerah.

Menurut Guntur, pemberantasan korupsi membutuhkan peran aktif seluruh elemen bangsa dan tidak dapat semata-mata dibebankan kepada aparat penegak hukum. Partisipasi masyarakat menjadi fondasi penting untuk membangun pemerintahan yang bersih sekaligus memperkuat budaya integritas.

“Budaya itu harus hidup di tengah masyarakat, tumbuh di sekolah dan kampus, serta hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua diajak untuk memahami, menyadari, dan meyakini bahwa pemberantasan korupsi perlu kita lakukan bersama dari hal-hal kecil di sekitar kita,” kata Guntur.

Ia menambahkan, KPK menjalankan strategi pemberantasan korupsi melalui pendidikan, pencegahan, dan penindakan. JNBA menjadi salah satu wujud strategi pendidikan dengan menghadirkan sosialisasi dan kampanye antikorupsi secara langsung di tengah masyarakat, sekaligus mendorong kesadaran publik bahwa perang melawan korupsi merupakan tanggung jawab bersama.

Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2018, JNBA telah menjangkau 14 provinsi dan 73 kabupaten/kota. Dalam perjalanannya, program tersebut telah menempuh lebih dari 10 ribu kilometer, melibatkan lebih dari 484 ribu masyarakat secara langsung, serta menjangkau lebih dari 1,4 juta masyarakat melalui berbagai aktivitas kampanye antikorupsi.

Memasuki pelaksanaan tahun ketujuh, JNBA membawa pesan bahwa pembangunan budaya integritas perlu hadir di seluruh penjuru negeri. Nilai kejujuran, gotong royong, kepedulian sosial, dan kebersamaan yang telah hidup di tengah masyarakat menjadi modal penting untuk memperkuat gerakan antikorupsi.

Khusus di Sumba Barat Daya, salah satu fokus JNBA adalah memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai antikorupsi, termasuk mengenali dan mencegah praktik korupsi skala kecil atau petty corruption. Pendekatan dilakukan melalui edukasi dan interaksi langsung agar masyarakat tidak hanya menerima pesan antikorupsi, tetapi juga mengambil peran dalam membangun lingkungan yang berintegritas.

“Harapan kami, perjalanan ini akan menitikberatkan pada penguatan kesadaran masyarakat pada nilai-nilai antikorupsi dan praktik korupsi skala kecil atau petty corruption. Sehingga masyarakat dapat bersama-sama memberantas korupsi dengan caranya sendiri,” ujarnya.

Perkuat Integritas dari Sekolah hingga Desa

Komitmen membangun budaya antikorupsi juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya. Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonnu Wulla, menyampaikan apresiasi kepada KPK yang telah memilih Sumba Barat Daya sebagai salah satu lokus pelaksanaan JNBA 2026.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dan seluruh masyarakat, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi RI yang telah memilih Kabupaten Sumba Barat Daya sebagai salah satu lokus Program JNBA Tahun 2026,” ujar Ratu.

Menurutnya, kehadiran JNBA bukan sekadar kehormatan bagi daerah, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya integritas dalam kehidupan sehari-hari. Melalui edukasi, interaksi, dan kolaborasi dengan masyarakat, JNBA diharapkan dapat memperkuat budaya hidup berintegritas, menolak berbagai bentuk petty corruption, sekaligus mendorong pelayanan publik yang bersih, transparan, dan melayani.

Ratu menegaskan, korupsi tidak hanya merugikan negara, tetapi juga dapat merusak tatanan sosial, melemahkan kepercayaan masyarakat, dan menghambat pembangunan daerah. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun kebiasaan berintegritas.

“Kita harus bersama-sama meneguhkan komitmen untuk membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa,” tegasnya.

Pesan tersebut, lanjut Ratu, sejalan dengan nilai-nilai adat dan budaya masyarakat Sumba yang menjunjung tinggi kejujuran, kebersamaan, dan tanggung jawab. Ia mengajak pelajar, tenaga pendidik, ASN, perangkat desa, pelaku seni, UMKM, komunitas, hingga tokoh adat untuk aktif berpartisipasi dalam seluruh rangkaian JNBA.

“Mari kita jadikan acara ini sebagai ruang belajar, ruang ekspresi, dan ruang konsolidasi gerakan antikorupsi di daerah kita,” ajaknya.

Penguatan nilai integritas juga telah dimulai melalui pendidikan di tingkat sekolah. Sebagai bagian dari rangkaian JNBA di Sumba Barat Daya, KPK melaksanakan program KPK Mengajar di dua sekolah, yakni SDK Delo di Kecamatan Wewewa Selatan dan SMP-SMK Deo Gloriam di Kecamatan Wewewa Barat.

Kegiatan tersebut menjadi sarana pengenalan nilai-nilai antikorupsi kepada peserta didik melalui pendekatan edutainment, yakni edukasi yang dikemas secara menyenangkan dan interaktif.

Rangkaian JNBA di Sumba Barat Daya selanjutnya mencakup edukasi bagi pelajar, sosialisasi kepada ASN, kepala dan perangkat desa, camat dan lurah, guru dan tenaga pendidik, komunitas tani dan nelayan, pelayanan publik, ruang konsultasi, serta aktivasi komunitas yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Dalam pembukaan JNBA, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya bersama sejumlah unsur pemerintahan daerah juga meneguhkan komitmen antikorupsi melalui penandatanganan bersama Deklarasi Antikorupsi.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Satuan Tugas 1 Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Medio Venda Sukarta, Wakil Ketua DPRD Sumba Barat Daya, Thomas Tanggu Dendo dan Yusuf Bora, unsur Forkopimda, KPU, Bawaslu, Sekretaris Daerah, pimpinan perangkat daerah, pimpinan instansi vertikal, komunitas, serta insan pers.

Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla secara resmi membuka Program JNBA KPK RI Tahun 2026 di Kabupaten Sumba Barat Daya. Ia berharap kehadiran JNBA menjadi tonggak penting dalam membangun masyarakat yang berintegritas dan pemerintahan yang bebas dari korupsi.

“Semoga JNBA 2026 di Sumba Barat Daya menjadi tonggak penting dalam membangun masyarakat yang berintegritas dan pemerintahan yang bebas dari korupsi,” pungkas Ratu. (Rizal)
Share:

Presiden Prabowo Siapkan Bursa Mineral Strategis, Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Global

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta. (Dok. BPMI Setpres)

Jakarta, WaraWiri.net - Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas strategis dunia dengan membangun bursa mineral dan komoditas strategis di dalam negeri. Kebijakan tersebut diarahkan agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga memiliki peran dalam menentukan harga komoditas yang selama ini banyak ditetapkan melalui pasar di luar negeri.

“Hari ini saya mengumumkan tahap lanjutan kebijakan ekspor satu pintu kita. Kita telah membahas bersama OJK bahwa kita ingin segera mendirikan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis,” ujar Presiden Prabowo saat menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan dan dokumen pendukungnya dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026–2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.

Presiden Prabowo mengatakan Indonesia selama puluhan tahun menjadi salah satu produsen berbagai komoditas penting dunia, mulai dari kelapa sawit, nikel, timah, batu bara, emas, kopi, hingga karet. Oleh karena itu, Indonesia sebagai pemilik komoditas harus memiliki instrumen perdagangan sendiri agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat di pasar global.

“Rencana kita dengan dukungan DPR, kita rencanakan 1 Januari 2027, kita akan memiliki Bursa Komoditas sendiri. Kita targetkan ketentuan penyelenggaraan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis,” ungkap Presiden.

Menurut Presiden Prabowo, keberadaan bursa tersebut akan menjadi fondasi pembentukan Indonesia Reference Price, yakni harga referensi Indonesia untuk berbagai komoditas utama ekspor. Pemerintah ingin membangun pasar yang dalam, transparan, likuid, dan dipercaya pelaku perdagangan internasional sehingga produsen, petani, eksportir, pembeli, dan investor nantinya dapat bertemu dalam satu sistem dengan data transaksi yang lebih terbuka.

Selain bursa komoditas, pemerintah juga akan melanjutkan reformasi pasar modal melalui demutualisasi. Langkah tersebut, menurut Presiden, diarahkan agar pasar modal Indonesia semakin memenuhi standar internasional sekaligus membuka kesempatan bagi perusahaan rintisan, pengusaha, dan pelaku usaha nasional untuk memperoleh tambahan modal dan memperbesar skala bisnis.

“Demutualisasi akan membawa pasar modal Indonesia ke standar dunia dan menjadikan pasar modal Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia,” ucap Presiden.

Presiden Prabowo juga mengungkapkan pemerintah akan melanjutkan optimalisasi aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia menyebut sebanyak 290 BUMN yang dinilai tidak produktif dan tidak memberikan nilai tambah bagi bangsa telah ditutup. Pemerintah pun menargetkan pada akhir 2026 jumlah BUMN dapat lebih ramping dengan maksimal 300 BUMN yang produktif.

Menurut Presiden Prabowo, aset BUMN berupa tanah, gedung, jaringan, kawasan, hingga fasilitas yang belum dimanfaatkan secara optimal tidak boleh dibiarkan menganggur ketika masyarakat membutuhkan lapangan pekerjaan dan perekonomian membutuhkan investasi. Oleh karena itu, pemerintah akan membuka peluang bagi pihak swasta untuk mengelola aset-aset tersebut melalui proses yang terbuka, kompetitif, dan akuntabel, dengan tetap menjaga kepemilikan strategis negara.

“Kita akan membuka supaya aset-aset yang tidak produktif dikerjakan oleh BUMN bisa dikerjakan oleh pihak swasta di seluruh Indonesia,” ujar Prabowo.

Melalui pembangunan bursa mineral dan komoditas strategis, reformasi pasar modal, serta optimalisasi aset BUMN, pemerintah ingin mengubah posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global. Indonesia tidak lagi hanya menjadi tempat komoditas diekstraksi, tetapi juga menjadi pusat perdagangan yang memiliki kemampuan lebih besar dalam menentukan nilai dan memperoleh manfaat ekonomi dari kekayaan nasional.

“Kita bukan hanya ingin menjadi penghasil komoditas dunia, kita harus ikut menentukan harga komoditas dunia. Kita ingin jadi Indonesia tempat komoditas diperdagangkan,” pungkas Presiden. (Dinda)
Share:

Presiden Prabowo Tegaskan BUMN Milik Rakyat, Restrukturisasi Dorong Efisiensi dan Kinerja

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta. (Dok. BPMI Setpres)

Jakarta, WaraWiri.net - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa badan usaha milik negara (BUMN) merupakan milik seluruh rakyat Indonesia dan harus dikelola untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Melalui restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan pemerintah bersama Danantara, jumlah BUMN tidak produktif terus dipangkas, biaya operasional berhasil dihemat, sementara kinerja dan kontribusi perusahaan negara menunjukkan peningkatan.

“BUMN adalah milik seluruh rakyat Indonesia. BUMN tidak boleh milik direksi, bukan milik komisaris, bukan pula sumber dana bagi penguasa,” tegas Presiden dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Presiden mengungkapkan bahwa pada saat Danantara dibentuk, pemerintah menemukan terdapat 1.074 BUMN, termasuk berbagai anak, cucu, hingga cicit perusahaan. Menurut Presiden, jumlah tersebut terlalu besar dan di antaranya terdapat perusahaan yang tidak produktif sehingga perlu dilakukan pembenahan secara menyeluruh.

Hingga saat ini, pemerintah telah menutup 290 BUMN. Pemerintah menargetkan jumlah BUMN pada akhir 2026 menjadi paling banyak 300 perusahaan sehingga hanya BUMN yang produktif dan mampu menciptakan nilai tambah bagi rakyat yang dipertahankan.

“Hanya yang produktif, hanya yang menciptakan nilai tambah untuk rakyat akan kita pertahankan. Ini mungkin adalah restrukturisasi korporasi terbesar di dunia,” ujar Presiden.

Lebih lanjut, Presiden menyebut perampingan tersebut telah menghasilkan penghematan biaya overhead lebih dari Rp50 triliun, antara lain dari biaya direksi dan komisaris, sewa gedung dan kendaraan, serta perjalanan dinas. Pemerintah menargetkan penghematan meningkat menjadi lebih dari Rp70 triliun pada akhir 2026.

“Kita bisa bayangkan dengan Rp50 triliun, berapa puskesmas bisa kita perbaiki, berapa sekolah bisa kita renovasi, berapa rumah untuk rakyat kita bisa kita berikan,” ungkap Kepala Negara.

Selain efisiensi, Presiden menyampaikan bahwa pembenahan BUMN mulai tercermin pada peningkatan kinerja perusahaan negara. Dalam enam bulan pertama 2026, keuntungan PT TIMAH mencapai Rp2,7 triliun atau sembilan kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih PT Semen Indonesia juga meningkat 408,9 persen, PT Pupuk Indonesia 252,8 persen, PT Pertamina 86 persen, Pegadaian 84,4 persen, Pelindo 60,4 persen, dan PTPN 54,4 persen.

Perbaikan turut dilakukan terhadap Garuda Indonesia. Hingga Juni 2026, sebanyak 20 pesawat yang sebelumnya tidak beroperasi berhasil direaktivasi sehingga jumlah pesawat aktif menjadi 104 unit. Presiden berharap Garuda Indonesia dapat kembali mencatat keuntungan secara berkelanjutan pada awal 2027.

Di sisi tata kelola, Presiden menegaskan tidak akan menoleransi laporan keuangan yang tidak menggambarkan kondisi sebenarnya. Pemerintah telah melakukan koreksi terhadap laporan sejumlah BUMN untuk memastikan setiap angka yang disampaikan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Saya tidak mau toleransi permainan angka, dengan laporan palsu. Kita harus dapat angka-angka yang benar, angka yang tepat, walaupun kadang-kadang pahit,” tegas Presiden.

Setelah dilakukan pembenahan, keuntungan BUMN meningkat dari Rp186 triliun pada 2024 menjadi Rp326 triliun pada 2025 atau naik 75,3 persen. Sementara itu, dividen BUMN pada 2025 mencapai Rp142,3 triliun. Jika dihitung setelah dikurangi penyertaan modal negara (PMN), kontribusi bersih BUMN meningkat dari Rp53 triliun pada 2024 menjadi Rp138 triliun pada 2025 dan diproyeksikan mencapai Rp200 triliun pada 2026 tanpa PMN.

“Ini membuktikan dengan manajemen yang akal sehat, dengan niat tidak menipu, keberhasilan kita bisa datang dengan sangat cepat,” ujar Presiden seraya menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan jajaran Danantara.

Presiden menambahkan bahwa peningkatan kinerja BUMN tersebut selanjutnya digunakan untuk mempercepat hilirisasi dan industrialisasi. Melalui Danantara, sebanyak 26 proyek hilirisasi telah dilakukan groundbreaking sepanjang 2026, mencakup pengolahan batu bara menjadi DME, hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, hingga smelter alumina menjadi aluminium yang diharapkan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja.

Pemerintah juga akan memperkuat strategi upstreaming dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan terbaik dunia untuk memperoleh teknologi, kekayaan intelektual, manajemen, pasar, serta pengalaman yang dibutuhkan guna memperkuat perekonomian nasional. (Dinda)
Share:

Presiden Prabowo Sampaikan Pidato Kenegaraan Penyampaian Keterangan Pemerintah atas RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta. (Dok. BPMI Setpres)

Jakarta, WaraWiri.net - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka Penyampaian Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan dan dokumen pendukungnya pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026-2027. Rapat paripurna tersebut berlangsung di Gedung Nusantara, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Presiden Prabowo tiba di kompleks parlemen dan disambut secara langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Ketua DPR RI Puan Maharani, serta Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin. Rapat paripurna diawali dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan pidato pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026-2027 oleh Ketua DPR RI.

Dalam pidato pembukaannya, Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan bahwa pembukaan masa persidangan tersebut menandai dimulainya tahun ketiga masa bakti DPR RI periode 2024-2029. Memasuki tahun ketiga, Puan menegaskan bahwa hasil pembangunan dan berbagai kebijakan pemerintah harus dapat makin nyata dirasakan oleh masyarakat.

“Memasuki tahun ketiga, harapan rakyat akan makin besar untuk dapat menikmati hasil pembangunan dan berbagai kebijakan yang makin nyata dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ketua DPR RI.

Ketua DPR RI menegaskan bahwa masa persidangan tersebut menjadi momentum penting bagi DPR RI untuk terus meningkatkan kinerja sekaligus memastikan aspirasi masyarakat dapat terakomodasi dalam kebijakan yang dihasilkan.

“Masa sidang ini akan menjadi kesempatan penting bagi DPR RI untuk terus memperkuat kinerja, menyerap aspirasi rakyat, dan menghadirkan kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi rakyat,” lanjutnya.

Mengawali pidato kenegaraannya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan seluruh anggota DPR RI atas kerja sama, pengawasan, serta dukungan yang diberikan dalam proses penyusunan dan pelaksanaan APBN.

“Pertama, saya menyampaikan penghargaan kepada pimpinan dan seluruh anggota DPR RI atas kerja sama, pengawasan, dan dukungannya dalam penyusunan serta pelaksanaan APBN,” ujar Presiden.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa APBN memiliki peran strategis dalam menjalankan amanat negara, bukan hanya sebagai dokumen pengelolaan keuangan, tetapi juga sebagai instrumen untuk melindungi rakyat, memperkuat bangsa, dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

“APBN bukan sekadar dokumen keuangan negara. APBN adalah alat perjuangan kita. APBN adalah instrumen untuk melindungi rakyat. Alat untuk memperkuat bangsa. Alat untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan dalam mencapai kehidupan yang lebih baik,” tegas Presiden Prabowo.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menekankan bahwa perjuangan para pahlawan untuk mendirikan negara Indonesia kini dilanjutkan dengan tanggung jawab bersama untuk memastikan negara mampu memberikan manfaat dan meningkatkan kualitas hidup seluruh rakyat.

“Jika dahulu para pahlawan berjuang agar bangsa Indonesia memiliki negara, hari ini tugas kita bersama adalah memastikan bahwa negara kita berhasil, negara kita dapat memberi peningkatan kualitas hidup bagi rakyat kita, negara kita hadir dalam kehidupan setiap rakyat kita,” ujar Presiden Prabowo. (Dinda)
Share:

Menteri LH Tegaskan Pengelolaan Limbah Harus Taati Aturan dan Utamakan Keselamatan Masyarakat

Menteri LH Tegaskan Pengelolaan Limbah Harus Taati Aturan dan Utamakan Keselamatan Masyarakat. (Dok. Kemen LH)

Bogor, WaraWiri.net - Kementerian Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan komitmen kuat untuk memperketat pengawasan serta manajemen tata kelola limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Indonesia.

Langkah ini diambil menyusul masih maraknya indikasi pengelolaan dan pengangkutan limbah B3 oleh oknum pelaku usaha maupun transporter yang tidak berjalan secara baik. Penegasan tersebut disampaikan oleh Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, saat melakukan peninjauan langsung ke fasilitas pengelolaan limbah B3 terpadu milik PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) di Nambo, Bogor.

Menteri Jumhur menyoroti masih ditemukannya praktik penanganan limbah yang tidak sesuai standar oleh oknum di Indonesia, sehingga pemerintah memandang perlu adanya penguatan regulasi yang mendasar.

"Kebanyakan orang kita ingin murah tapi bisa celaka jadi urusan belakangan. Sekarang tidak boleh lagi seperti itu, sudah enggak zamannya lagi. Silakan berbisnis, kami welcome, tapi tetap pastikan bisnis itu tidak merusak lingkungan dan lebih utama tidak menyebabkan bahaya bagi masyarakat. Karena kesehatan dan keselamatan rakyat adalah di atas segala-galanya,” tegas Menteri Jumhur.

Sebagai langkah konkret atas permasalahan tersebut, Menteri Jumhur memaparkan bahwa KLH/BPLH akan memberlakukan regulasi yang lebih ketat melalui perhitungan neraca limbah B3 yang transparan. Kebijakan ini mewajibkan volume limbah yang dihasilkan dari sumber harus sesuai secara presisi dengan volume yang diterima oleh perusahaan pengolah akhir.

Guna menutup celah potensi kebocoran limbah di tengah rantai distribusi, pemerintah menyiapkan regulasi baru yang mengharuskan perusahaan penghasil limbah B3 untuk tidak lagi berkontrak langsung dengan pihak transporter, melainkan wajib berkontrak langsung dengan badan usaha pengelola limbah B3 berizin. Meskipun pihak transporter dapat siapa saja dengan syarat kendaraan pengangkut yang ketat, tanggung jawab utama pengolahan dan pemusnahan tidak berada di tangan transporter demi menghindari praktik pembuangan liar di tengah jalan.

Selain itu, KLH/BPLH juga menyoroti pentingnya penetapan rentang harga meliputi batas minimum dan maksimum untuk layanan pengangkutan serta pengolahan limbah B3. Kebijakan ini krusial untuk mencegah persaingan usaha tidak sehat serta menghentikan praktik penetapan harga di bawah standar ilmiah yang berisiko memicu pelanggaran pembuangan limbah secara sembarangan.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Jumhur turut mengapresiasi rekam jejak PT PPLI yang didirikan oleh Pemerintah Indonesia berkolaborasi dengan Jepang pada tahun 1993–1994 sebagai wujud tindak lanjut Konvensi Basel 1989. Keberadaan PT PPLI dinilai telah menjadi teladan serta benchmarking yang baik bagi tata kelola limbah industri di tanah air, yang sekaligus menunjukkan tingkat peradaban bangsa di mata dunia internasional.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur PT PPLI, Takanobu Tachikawa, menyambut baik kunjungan kerja Menteri Lingkungan Hidup beserta jajaran dan menyatakan komitmen penuh perusahaannya untuk terus bersinergi dengan pemerintah.

"Kami percaya bahwa pengelolaan limbah B3 bukan sekadar bagaimana limbah itu diolah tapi setiap aliran limbah harus ditelusuri dari hulu hingga ke hilir dan dapat dipertanggungjawabkan hingga tahap akhir pengelolaan. Kami berharap dengan kunjungan kali ini dapat memperkuat kolaborasi antara PPLI dengan pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan limbah B3 yang aman, taat regulasi dan benar-benar memberikan perlindungan bagi lingkungan hidup dan masyarakat," ungkap Takanobu Tachikawa.

Melalui langkah penertiban yang komprehensif ini, KLH/BPLH memastikan akan terus memperkuat instrumen regulasi dan pengawasan di lapangan, demi memastikan seluruh aktivitas pengelolaan limbah B3 di Indonesia berjalan tertib, aman, serta memberikan perlindungan maksimal bagi kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat. (Dimas)
Share:

KLH/BPLH dan Kementerian Koperasi Dorong Koperasi Jadi Motor Penggerak Ekonomi Hijau

KLH/BPLH dan Kementerian Koperasi Dorong Koperasi Jadi Motor Penggerak Ekonomi Hijau. (Dok. Kemen LH)

Jakarta, WaraWiri.net - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Kementerian Koperasi memperkuat kolaborasi strategis untuk menjadikan koperasi sebagai motor penggerak ekonomi hijau. Sinergi ini dirancang untuk menjembatani pelestarian lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, limbah, hingga perdagangan karbon, agar berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak.

Langkah bersama tersebut diresmikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Sinergi Pelaksanaan Tugas dan Fungsi di Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Berbasis Koperasi di Jakarta.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, mengungkapkan bahwa kerja sama ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam memperkuat peran koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Menurut Menteri Jumhur, pertumbuhan ekonomi hijau harus berjalan beriringan dan dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat.

"Kita ingin ikut serta dalam pergerakan yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjadikan koperasi sungguh-sungguh menjadi sokoguru ekonomi Indonesia," ujar Menteri Jumhur.

Sebagai langkah konkret awal, kedua kementerian menyiapkan integrasi fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). 

Sebanyak 10 kabupaten/kota telah dipilih sebagai pilot project sebelum program ini direplikasi secara luas. Melalui model ini, sampah tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi tinggi seperti kompos atau bahan baku daur ulang, yang sekaligus membuka peluang lapangan kerja hijau (green jobs).

Di sisi lain, Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menyatakan kesiapan jaringan 131 ribu koperasi binaannya untuk menjadi garda terdepan dalam mendukung berbagai program lingkungan, termasuk pengelolaan limbah rumah tangga seperti minyak jelantah.

"Kami pun bisa menjadi instrumen yang akan bisa membantu program-program dari Kementerian Lingkungan Hidup, misalkan seperti pengelolaan sampah, pengelolaan limbah seperti jelantah dan lain sebagainya," kata Menteri Ferry.

Selain persoalan sampah, kolaborasi ini juga membuka jalan bagi koperasi untuk merambah sektor perdagangan karbon, seperti melibatkan koperasi petani sawit yang memiliki potensi lahan perkebunan. Terkait hal tersebut, Menteri Jumhur menekankan pentingnya transparansi dan keadilan dalam distribusi hasil perdagangan karbon agar benar-benar dinikmati oleh masyarakat lokal.

"Perdagangan karbon yang berintegritas tinggi hanya bisa terjadi kalau hasil daripada penjualan unit karbon itu, benefit sharing-nya, harus dirasakan betul oleh masyarakat tapak," tegas Menteri Jumhur.

Adapun ruang lingkup Nota Kesepahaman ini mencakup interoperabilitas data, penguatan kelembagaan KDKMP, pendampingan literasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta model bisnis berkelanjutan. Sebagai tindak lanjut, kedua kementerian menargetkan penyusunan Perjanjian Kerja Sama paling lambat dalam waktu tiga bulan ke depan.

Ke depannya, kolaborasi ini diharapkan mampu mendongkrak peran aktif koperasi agar tidak sekadar menjadi sokoguru ekonomi kerakyatan, melainkan juga garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan di tanah air. (Dimas)
Share:






ADVERTISING

ADVERTISING